Now Playing Tracks

Bersabarlah

Mendengar kabar lewat telepon,

Seperti lumpuh akalmu.

“Ini ujian, ini kutukan, ini kesedihan,” katamu.

Ya, mungkin ini ujian,

Dari Allah atas kemurnianmu,

Sebagaimana Ibrahim hadapi.

“Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, “kami telah beriman”, dan mereka tidak diuji?. Dan sungguh kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka Allah pasti mengetahui orang-orang yang benar dan pasti mengetahui orang-orang yang dusta.” (Al‘Ankabut:2-3).

Ya, ini ujian,

Dari Allah untuk kesabaranmu,

Sebagaimana Ismail dapat atasi,

Dia (Ismail) menjawab, “Wahai ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu;  insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang yang sabar.” (QS. Ash-Shaaffaat: 102).

Oh, wahai, dirimu, bersabarlah,

Mantapkanlah hatimu.

Allah bersamamu.

Tak Berdaya

Cahayanya temaram,

Sendu,

tak kuasa menjawab apa,

tiap kali dibisikkan cinta

dan dipuisikan rindu ke telinganya.

Bisu,

tak sanggup jawab apa.

Atau harus bagaimana.

Tak berdaya dalam diam

Cukup lihat temaram matanya.

Jernih menari,

diam.

Ia tahu diri.

Cukup tahu diri.

Muhammad dan aku

Kau bertanya, “Sejauh apa diriku padamu?” “Sampai-sampai getaran ini tak terdengar,” katamu dalam hati.

Aku tak bisa jawab.

“Sebanyak apa rindu yang kau rasakan antara kita?” “Sampai kau tak hadir,” katamu setengah berbisik.

Aku juga tak bisa jawab.

—-

Aku hilang dalam langkah. Tak bisa rasa, tak bisa sentuh.

Hilang rasa, dalam jarak, dan rentang waktu yang panjang.

Duh, maafkan.

Babi dan Nama Kita

Mas M yang baik pagi itu menjahili dik I yang hendak ikut praktikum pemeliharaan kesehatan babi. Katanya, 

“Kenapa praktik memeriksa babi? itu kan binatang haram?”

Mas I hanya nyengir kuda,

“Ya, mbuh, ya, wong dosennya yang minta gitu.”

Lalu keluarlah kata manis emas dari mas Z yang sedari tadi menguping:

“Eh, jangan menghina babi, mas M. Babi itu binatang mulia. Berapa kali Qur’an menyebut kata babi dan berapa kali Qur’an menyebut namamu? Kata babi jauh lebih banyak disebut daripada namamu, kan?” 

Mungkin menurut keyakinan mas Z, manusia tak perlulah mengejek atau merendahkan orang lain atau benda lain; toh semuanya diciptakan Allah dalam keadaan dan bentuk yang sebaik-baiknya (ahsani taqwim).

Duh, Gusti

Duh Gusti,

Panjenegan ngapunten duso kulo.

Duh Gusti,

boten kirang-kirang duso ingkang kulo damel, boten kirang-kirang ingkang kulo tumpuk.

Kulo boten gadah kekuatan lan daya berbuat kesaenan.

namung jenengan, namung panjenengan, Gusti.

Menawi boten panjenengan ngapunten,

Dateng pundi malih kulo bakal pinuju?

Dateng pundi malih kulo bakal nuwun?

Dateng pundi malih kulo bakal balik?

Duh, Gusti, panjenengan ngapunten duso kulo.

[aku…]

..

Aku,

Tak ada maksud apa-apa.

Tak ada maksud mengganggu, atau menusuk lagi lukamu.

Aku hanya ingin mengenangmu dari jauh, sesekali, saat kutatap langit yang bundar gelap.

Sesekali berbisik sendiri, sebagai orang linglung,

“Kugenggam dengan erat kenangan tentangmu,

tentang kisah indah, yang tak kesampaian,

karena takdir yang mangkir

dari angan yang mengepul pelan.”

Kenangan adalah pahit,

adalah manis,

adalah sedih,

adalah putih,

dan adalah yang tak mampu diungkap dengan kata sesal.

Yogyakarta, August 31, 2012

Yang tak Terjemahkan

Camelia V


Kugigit getir rindu dalam kesepianku.

Kudekap pedih kelu dalam penyesalan.

Terlambat; bunga ini mekar terlambat.

Yang kupanen hanya hampa,

yang lalu kudekap erat-erat,

sambil lirih-lirih kubisikkan perih dalam dada,

“Aku rindu padamu, Camelia.

Kulihat engkau, kudengar engkau dari jauh.

Teruslah tumbuh. Terus bahagia.”

To Tumblr, Love Pixel Union